gggg


Berbagi pengetahuan

Kamis, 17 November 2016

akhlak mulia



AKHLAK MULIA
Faktor Penyebab Metode Pengembangan dan Dampaknya

http://1.bp.blogspot.com/-DyMc8HzTTHc/VLyguNBuOTI/AAAAAAAAA-0/cIo_sb5IhIc/s1600/IMG_20141231_181242.jpg

Disusun Oleh :
Kelompok 3
1.     Serliana Pertiwi    (1532900137)
2.     Destari Dwi Putri (1532900159)
3.     Sri Wahyuni                   (1532900172)
4.     Yesi Maftalina      (1532900176)
                                                       
Dosen Pembimbing :
Andi Idham, M.Pd.I


JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN RADEN FATAH PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2015-2016

 


Akhlak Mulia: Faktor Penyabab Metode Pengembangan dan Dampaknya
A.      Pendahuluan
     Islam hadir ditengah masyarakat jahiliyah yang dikenal kurang beradab dan kurang manusiawi. Maka, tawaran solusinya yang paling mendasar ialah memperbaiki akhlak kehidupan manusia sebagai pemegang amanah Tuhan dalan kehidupan dunia. Sejalan kemajuan yang berlangsung, islam tampil sebagai agama yang memiliki ciri khas atau karakter.
     Karakter Islam tentunya bukan sebagai agama yang gemar perang atau ambisius dalam urusan kekuasaan, melainkan kerakter akhlak mulia. Islam memiliki pengikut besar didunia karena kepribadian yang mulia dari sosok Nabi Muhammad  Saw.
      Akhlak ini merupakan pilar islam terpenting bersama tauhid dan syariat. Ketiga komponen inilah yang menjadi landasan gerak pemeliknya ; baik untuk mengurusipersoalan internal keluarga, lingkungan sekitar maupun mengurusi golongan diluar agama islam. Maka, sangat penting kiranya untuk mengetahui isi dari Akhlak yang ada di dalam islam. Tetapi yang lebih penting lagi adalah mengetahui secara detail butir-butir pokok dari karakteristik moral, atau lebih tepatnya karakter religiusitas dalam islam.

B.     Pembahasan
A. Akhlak Mulia
Akhlak mulia ialah seluruh perilaku umat manusiayang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits yaitu adab sopan santun yang di contoh kan dan di ajarkan rosulullah muhammad Saw kepada seluruh umat manusia ketika beliau masih hidup. Kata akhlak yang digunakan dalam al-Qur’an ketika Allah mengatakan budi perkerti Nabi Muhamad Saw, yaitu dalam pirman nya : dan sesungguh nya kamu benar-benar berbudi pekerti (Khuluq) yang agung, (Qs al-Qalam ; 4)[1]
Inti ajaran agama Islam adalah akhlak mulia. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits, bahwarosullah Saw pernah ditanya, “apa agama itu?” Beliau menjawab, “akhlak mulia.”
Para filosof dari aliran sosialisme positif seperti livi Brill, sebagai mana yang dikutip oleh O. Hashon, ada tiga pengertian ahlak, yaitu gagasan yang mengandung konsep, hukm dan adat istiadat baik yang berkaitan dengan hak-hak manusia, kewajiban manusia antara satu sama lain yang diakui dan diterima oleh tiap-tiap individu pada umumnya pada masa tertentu atau peradapan tertentu.
      Macam-macam akhlak mulia ditinjau dari berbagai segi :
1.    Akhlak Mulia kepada Makhluk
      Akhlak Mulia terhadap makhlukterangkum dalam dua hal, yaitu banyak mengulurkan tangan untuk amal kebajikan serta menahan diri dari perkataan dan perbuatan tercela. Kedua hal ini mudah dilakukan jika memiliki lima syarat, yaitu ilmu, kemurahan hati, kesabaran, kesehatan jasmani, dan pemahaman yang benar tentang islam.
a.       Akhlak Mulia kepada Orangtua
       Menunjukan akhlak mulia kepada orangtua adalah dengan berbakti kepada mereka. Dalam Al-Qur’an,kewajiban berbakti kepada orangtua disebutkan setelah kewajiban untuk mengesakan Allah.
* 4Ó|Ós%ur y7/u žwr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8yYÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ  

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt, dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah  kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Qs al- Isra : 23)

b.       Akhlak Mulia kepada Teman
      Setiap orang pasti membutuhkan orang lain dalam hidupnya, dalam hal apa pun,termasuk dalam pergaulan. Oleh karena itu, dalam kehidupan sosialnya, seseorang membutuhkan teman. Dengan teman itilah dia dapat berbagi suka dan duka, sehingga kehadiran teman dapat membuatnya bahagia.  Terlebih ketika dia sedang terkena musibah atau membutuhkan bantuan.
c.       Akhlak Mulia kepada Tetangga dan Teman Sejawat
     Dalam islam, tetangga memiliki kedudukan yang khusus. Oleh karena itu, islam mengajarkan kepada pemeluknya agar bersikap hormat, santun dan bertoleransi dengan tetangga. Tidak ada kekecualian dalam hal tersebut, baik tetangga itu seiman dengan kita maupun beda keyakinan. Sebagai Muslim, kita harus menunjukan akhlak mulia kepada tetangga kita, baik dia seagama dengan kita maupun beda agama.
d.      Akhlak Mulia dalam Pergaulan Antarjenis
     Allahn Swt menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan. Sementara itu, Islam adalah agama yang sempurna, yang di dalamnya diatur seluk-beluk kehidupan manusia, termasuk diantaranya adalah bagaimana pergaulan antaralawan jenis. Dalam hubungan antarlawan jenis, islam telah menetapkan adab dan etika yang mengaturnya.[2]
2.    Akhlak mulia dalam pergaulan
a.    Menjaga lidah
    Seorang muslim sebaiknya selalu menjaga lidahnya dari perkataan yang tidak bermanfaat seperti perkataan cabul, ejekan dan fitnah. Ada hadits yang mengatakan menerangkan bencana akibat tidak menjaga perkataan diantaranya sebagai berikut :
   Rasulullah Saw bersabdah, “sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan dampaknya terlebih dahulu akan membuatnya terjerumus kedalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dan barat.”(H.R AL-Bukhari)
Menjaga lidah akan memberikan banyak manfaat, antara lain sebagai berikut :
1.    Mendapat keutamaan karena telah melaksanakan perintah Allah dan Rasulnya.
2.    Menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.
3.    Mendapat jaminan dari Rassullah Saw untuk masuk surga.
4.    Allah meninggikan derajatnya dan memberikan ridhonya kepadanya.
b.    Malu
Seorang muslim hendaknya memiliki sifat pemalu dalam setiap keadaan. Namun demikian, sifat tersebut bukan berarti menghalanginya untuk mengatakan dan menyatakan kebenaran. Diantara sifat pemalu seseorang ialah ia tidak mencampuri urusan orang lain, memelihara pandangan, merendah diri,tidak meninggalkan suara ketika berbicara.
Diceritakan dari rasullulah Saw bahwa beliau adalah seorang yang sangat pemalu, lebih pemalu dari anak gadis yang berada di balik tabir.
 Rasullulah Saw bersabda, “ iman mempunyai tujuh puluh atau enam puluh cabang, cabang yang paling utama ialah ucapan la ilaha illaillah (tidak ada tuhan selain allah) dan yang paling rendah menyingkirkan duri dari jalan. Dan sifat malu merupakan saatu cabang dari keimanan.”
c.    Tawadhu
Tawadhu atau randah hati merupakan salah satu sifat mulia yang harus dimiliki setiap muslim. Dengan sifat ini, seseorang tidah merasa baik, lebih hebat, lebih tinggi atau lebih segala-galanya dari orang lain. kebalikan dari tawadhu adalah takabbur, yang berarti sombong, tinggi hati, atau merasa diri lebih baik, lebih hebat, dan sebagainya dari orang lain. Allah Swt berfirman, (qs al-Furqan : 63)
ߊ$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# šúïÏ%©!$# tbqà±ôJtƒ n?tã ÇÚöF{$# $ZRöqyd #sŒÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ šcqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y ÇÏÌÈ  
Artinya : Dan  hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS al-Furqan : 63)

d.   Toleransi
 Islamadalah agama yang berlandaskan pada wahyu dari allah Swt. Tentu saja, wahyu allah memiliki nilai kebenaran yang bersifat mutlak dan tidak perlu diragukan lagi. Oleh karena itu, jika ajaran islam dilaksanakan dengan benar dalam kehidupan sehari-hari, maka diaakan memberikan rahmat, kasih sayang, dan kedamaian.[3]
3.    Ahlak dalam sikap
a.    Taat
Taat, secara bahasa, artinya mengerjakan sesuatu yang di perintahkan. Sementara itu, menurut istilah syariat, taat adalah bertindak melaksanakan perintah dan menjauhi larangan di sertai niat dan keyakinan.
b.    Qana’ah
Qana’ah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas merasa kurang yang berlebihan. Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup justru orang yang qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan tetap rela menerima hasil tersebut dengan rasa syukur ke pada allah Swt.
c.    Sabar
Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Madarij mengatakan bahwa akhlak mulia dibangun diatas empat pilar utama yang saling mendukung satu sama lain. Empat pilar itu adalah kesabaran, keberanian, keadilan, dan kesucian. Sabar merupakan pilar kebahagiaan seorang muslim. Dengan kesabaran, seorang muslim akan terjaga kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan.
Kesimpulan: Ada beberapa cara yang di gunakan dalam pembentukan Ahlak, pembinaan ahlak yang ditempu Islam adalah menggunakan cara atausistem yang integrated, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribedatan dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pembinaan ahlak. Ada cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan ahlak ini adalah pembiasaan yang dilakukn sejak kecil dan berlangsung secara kontunyu.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak Mulia
      Pada dasarnya, akhlak mulia berkaitan sangat erat dengan nilai-nilai dan norma-norma. Juga, seperti telah dikemukakan tadi, bahwa akhlak mulia terbentuk melalui proses pembiasaan  sehingga terbentuk karakter yang selaras dengan nilai-nilai yang baik dan positif maka perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang berperan dalam pembentukan karakter atau akhlak tersebut.
     Sebenarnya, banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang, tetapi disini akan di sini akan disebutkan sebagiannya saja yang dipandang paling dominan. Dari sejumlah  faktor tersebut dapat kita klasifikasikan ke dalam dua bagian, yaitu faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal.
1.      Faktor Internal
Faktor ini meliputi beberapa hal berikut :
a.     Insting atau Naluri
      Insting adalah karakter yang melekat  dalam jiwa seseorang  yang dibawanya sejak lahir. Ini merupakan faktor pertama yang memuncul kan sikap dan perilaku dalam dirinya. Tetapi karakter ini dipandang masih primitif dan harus dididik dan diarahkan.
b.    Adat/kebiasaan
      Adat/kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Abu Bakar Dzikir berpendapat bahwa perbuatan manusia, apabila di kerjakan secara berulang-ulang sehingga mudah melakukannya, dinamakan adat kebiasaan.
c.     Keturunan
     Maksudnya adalah berpindahnya sifat-sifat tertentu dari orangtua kepada anak. Sifat-sifat asasi orangtuanya. kadang-kadag anak mewarisi sebagian besar sifat-sifat orangtuanya.
2.      Faktor Eksternal
     Faktor Eksternal dalam ini adalah melieu, yaitu segala sesuatu yang berada di luar individu yang berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung, baik disadari maupun tidak disadari, terhadap pembentukan mental dan kerakter. Ada dua macam :
a.     Lingkungan Alam
      Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku seseorang. Lingkungan alam dapat mematangkan pertumbuhan bakat yang dibawanya. Kita dapat melihat perbedaan antara individu yang hidup di  lingkungan alam yang tandus, gersang dan panas dengan individu yang hidup di lingkungan alam yang subur dan sejuk. Lingkungan alaam  ini  dapat berpengaruh terhadap perangai dan pembawaan seseorang.
b.    Lingkungan  Pergaulan
      Untuk menjamin kelangsungan hidupnya, manusia selalu berhubungan satu dengan yang lain. Itulah sebabnya manusia membutuhkan pergaulan. Dengan adanya pergaulan, manusia saling mempengaruhi, seperti dalam pemikiran, sifat dan tingkah laku. Lingkungan pergaulan ini meliputi beberapa hal berikut :
1.   Keluarga/Rumah
     Keluarga merupakan salah satu sumber yang memberikan dasar-dasar ajaran bagi sesorang yang merupakan faktor terpenting dalam pembentukan mentalnya.
2.   Lingkungan Sekitar
      Lingkungan sekitar adalah lingkungan di luar rumah tempat individu bersosialisasi dengan tetangga, pada khususnya, dan masyarakat, pada umumnya, sehingga memberikan pengaruh terhadap kepribadian, mental, dan perilakunya.
3.   Lingkungan Sekolah/Tempat Kerja
     Lingkungan sekolah atau tempat kerja, di mana individu melakukan sebagai aktivitasnya di tempat tersebut, berpotensi untuk memberikan pengaruh terhadap karakter dan perilakunya. [4]
      Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak mulia pada khususnya dan pendidikan pada umumnya, ada tiga aliran yang sangat amat populer.
1.      Menurut aliran Nativisme bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan, bakat, akal, dan lain-lain. Jika seseorang yang sudah memiliki pembawaan atau kecenderungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut menjadi baik.
     Aliran ini tampaknya begitu yakin terhadap potensi batin yang ada dalam diri manusia, dan hal ini kelihatannya erat kaitannyadengan pendapat aliran intuisisme dalam hal penentuan baik dan buruk sebagai mana telah diuraikan diatas. Aliran ini tampak kurang menghargai atau kurang memperhitungkan peran pembinaan dan pendidikan.
2.      Menurut Aliran Empirisme bahwa faktor yang paling brepengaruh terhadap pembentukan dari seseorang adalah faktor dari luar, yaitu lingkungan sosial, termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Jika pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak itu baik, maka baiklah anak itu. Demikian jika sebaliknya.
Aliran ini tampak begitu percaya kepada peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran.
3.      Menurut Aliran Konvergensi berpendapat pembentukan akhlak di      pengaruhi oleh faktor internal, yaitu pembawaan sianak, dan faktor dari luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat secara khusus, atau melalui interaksi dalam lingkungan sosial.
Fitrah dan kecenderungan kearah yang baik yang ada didalam diri manusia dibina secara intensif melaui metode.
Kesimpulan: Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak
mulia terbagi dua yaitu faktor internal dan eksternal.
1.      Faktor internal
a.    Insting atau Naluri
b.   Adat atau Kebiasaan
c.    Keturunan
2.      Faktor Eksternal
a.    Lingkungan Alam
b.   Lingkungan Pergaulan
c.    Lingkungan Sekolah atau Tempat Kerja

C.  Metode Pengembangan Kualitas Akhlak dan Pembinaan Akhlak
1.      Metode peningkatan kualitas akhlak
      Akhlak merupakan sumber kebaikan semuan tingkah laku manusia dan Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Rasulullah juga menekankan pentingnya akhlak ini dengan menyebutkan bahwa agama adalah akhlak yang baik.
Akhlak akan memberi timbangan kebaikan seseorang di hari kiamat.
Metode yang paling efektif untuk menjaga dan membina akhlak sebagai berikut :
·      Dengan memberikan penjelasan bahwa adanya balasan bagi orang-orang yang berakhlak mulia akan dimuliakan Allah dan Rasul-Nya serta mendapatkan kehidupan yang baik.
·      Dengan memberikan penjelasan adanya pembahasan bagi orang-orang yang akhlaknya buruk, juga akan mendapatkan balasan yang buruk dan hidupnya akan menemui keburukan.
·      Berpikir ke masa depan, yakin adanya persiapan bahwa bahwa hidup tidak hanya di dunia, tetapi ada kehidupan yang abadi di akhirat.
·      Muhasabah (introspeksi diri),yakni meneliti dalam diri sendiri apa yang sudah kita lakukan untuk menghadap allah diakhirat kelak.
·      Meningkatkan kualitas akhlak, yakni dengan senantiasa menambah ilmu pengetahuan, baik dengan membaca, mendengarkan ceramah, pengajian, maupun melihat dan mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi dilingkungannya, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosialnya.[5]
2.      Metode Pembinaan Akhlak
Ada enam metode pembinaan akhlak dalam perspektif Islam serta pendapat dari pakar pendidikan Islam
·      Metode Uswah atau teladan
Teladan adalah semua yang pantas untuk diikuti, karena mengandung nilai-nilai kemanusian.
·      Metode Pa’widiyah ( pembiasaan)
Secara etimologi, pembiasaan asal katanya adalah biasa. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, bisa artinya lazim atau umum; seperti sedia kalah; sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dalamkehidupan sehari-hari
·      Metode Mau’izhaa (nasehat)
Kita mau’izhaa berasal dari wa’zhu, yang berarti nasehat yang terpuji , yang memotivasi dengan perkataan yang lembut.
·      Metode Kishshah (Ceritera)
Kishshah dalam pendidikan suatu cara menyampaikan materi pelajaran, dengan menuturkan secara kronologis, tentang bagaimana terjadinya suatu hal, baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja
·      Metode Amtsal ( perumpamaan )
Metode perumpamaan adalah metode yang banyak dipergunakan dalam al-quran dan hadist untuk mewujudkan akhlak mulia.
·      Metode Tsawab (ganjaran)
Metode ganjaran yang berbentuk hadiah, diantaranya adalah, memangil dalam pangilan kesayangan , memberikan pujian, memberikan maaf atas kesalahan mengeluarkan perkatan yang baik, bermain atau bercanda menyambutnya dengan ramah, menelpon nya kalau perlu dan lain-lain.
Kesimpulan: Pengembangan kualitas Ahlak yaitu memberi timbangan kebaikan seseorang dengan ahlak baik. Pengembangan pembinaan ahlak yaitu; Teladan, Pembahasan, Nasehat, Ceritera, Perumpamaan, Ganjaran.
D. Manfaat Memiliki Akhlak Mulia
  Hal yang menggambarkan bahwa manfaat dari akhlak mulia itu adalah keberuntungan hidup di dunia dan akhirat. Menurut M.Quraish Shihab, janji-janji allah yang demikian itu pasti akan terjadi, karena ia merupakan sunatullah sama kedudukanya dengan sunatullah yang bersifat alamiah asalkan hal tersebut ditempuh dengan cara yang tepat dan benar.
     Selanjutnya di dalam hadis juga banyak dijumpai keterangan tentang datangnya keberuntungan dari akhlak. Keberuntungan tersebut di antaranya adalah :
1.    Memperkuat dan Menyempurnakan Agama
Nabi bersabda :
Allah telah memilihkan agama islam untuk kamu,hormatilah agama dengan akhlak dan sikap dermawan, karena Islam itu tidak ada sempurna kecuali dengan akhlak dan sikap dermawan itu.”
     Berkenaan dengan hadist tersebut ai-Mawardi mengatakan bahwa akhlak yang mulia dan bertentangga yang baik itu akan mendatangkan kemakmuran. Apa yang dijelas kan dalam hadist tersebut secara logika dapat diterima, karena akhlak yang baik akan menimbulkan kawan yang banyak dan disukai orang, sehingga segala kesulitan dapat dipecahkan dan peluang untuk mendapat rezeki dan keberuntungan akan terbuka, mengingat rejeki itu datang melalui interaksi yang baik dengan orang lain.
2.    Mempermudah Perhitungan Amal di Akhirat
Nabi bersabda :
“ Ada tiga perkara yang menbawa kemudahan hisab (perhitungan amal di akhirat) dan akan di masukan ke surga, yaoitu engkau memberi sesuatu kepada orang yang tek pernah memberi apapun kepadamu (kikir),engkau memaafkan orang yang pernah menganiayamu, dan engkau menyambung tali silahturahmi kepada orang yang tak pernah kenal padamu.”(HR Al-Hakim).
3.    Menghilangkan Kesulitan
Nabi bersabda :
“Barang siapa melepaskan kesulitan orang mu’min dan kehidupanya di dunia ini, maka allah akan melepaskan kesulitan orang tersebut padahari kiamat.” (HR Muslim)
4.    Selamat Hidup di Dunia dan Akhirat
Nabi bersabdah :
“Ada tiga perkara yang dapat menyelamatkan manusia, yaitu takut kepada Allah di tempat yang tersembunyi maupun di tempat yang terang, berlaku adil pada waktu miskin,maupun waktu kaya.” (HR Abu Syaikh)
      Uraian tersebut menjelaskan sebagian hasil dari manfaat dari keberuntungan yang dihasilkan sebagai akibat dari akhlak mulia yang dikerjakan. Tentu masih banyak lagi keberuntungan dari akhlak mulia itu yang tidak disebutkan disini. Namun, dengan menyebutkan itu saja, rasanya sudah cukup untuk mendukung pertanyaan di atas bahwa akhlak yang mulia itu akan membawa keberuntungan. Ini hukum tuhan yang pasti terjadi dan sangat efektif dengan hukum tuhan lainya. Banyak bukti yang dijumpai dalam kenyataan  sosial bahwa orang yang berakhlak mulia itu semakin semakin beruntung. Orang yang baik akhlaknya pasti disukai oleh masyarakatnya, kesulitan dan penderitaanya akan dibantu untuk dipecahkan, walaupun ia tidak mengharapkanya . kenyataan juga menunjukan bahwa orang yang banyak bersedekah tidak menjadi miskin atau sengsara, tetapi malah berlimpah ruah hartanya.
      Sebaliknya jika akhlak yang mulia itu telah sirna, dan berganti dengan akhlak yang tercela maka kehancuran pun akan segera datang menghadangnya. Ini pasti, dan sudah terlalu banyak contoh yang dapat dikemukakan. Penyair Syauki Bey pernah mengatakan ,
Selama umat itu akhlaknya baik ia akan tetap eksis, dan jiak akhlaknya sirna, maka bangsa itu pun akan binasa.”[6]
Hikmah Akhlak Mulia bagi Seorang Muslim
Akhlak mulia memberikan banyak hikmah bagi setiap muslim yang memilikinya, diantaranya sebagai berikut:
1.    Tumbuh rasa cinta kepada Allah SWT
2.    Terciptanya ketenangan dan kedamaian dalam hati
3.    Terjalin ukhuwah (persaudaraan)
4.    Terhindar dari pitnah
5.    Terhindar dari rasa iri dan dengki
6.    Memperoleh pahala dari Allah SWT

Hamba Allah SWT. Yang husnuzan selalu berperasangka baik terhadap segala ketentuan Allah SWT. Ia berpikir bahwa Allah SWT. Tidak akan membebani setiap makhluk-Nya melainkan sesuai dengan kemampuannya. Setiap musibah yang menimpa telah melalui perhitungan yang sangat cermat dari Allah SWT. Dan pasti bukan dimaksudkan untuk mengania hamba-Nya. Walaupun terasa menyakitkan, hamba Allah SWT. Yang husnuzah yakin bahwa musibah yang terjadi bukan karena Allah SWT. Sengaja zalim terhadap hamba-Nya.musibah yang terjadi merupakan ujian atau peringatan Allah SWT. Kepada hamba-Nya.
 Sesungguhnya ketentuan Allah SWT. atas hamba-Nya didasari rahmat dan kasih sayang-Nya. Hanya saja banyak manusia yang tidak menyadarinya dan berburuk sangka kepada Allah SWT. Mereka justru merasa menderita ketika menjalani ujian-Nya.padahal Allah SWT. Selalu memberikan kemudahan dibalik setiap kesulitan.
· Akhlak mulia membentuk pribadi-pribadi muslim yang taat kepada Allah SWT. Dan rosul-Nya, serta mampu bergaul dan bermasyarakat dengan baik.
· Husnuzan kepada Allah SWT. Berarti berperasangka baik kepada-Nya dengan mensyukuri segala hal yang diterima tanpa membanding-bandingkan dengan yang lain.
· Husnuzan kepada Allah SWT. Ditunjukan dengan mencintai-Nya ,taat kepada-Nya, dan selalu memohon ampun kepada-Nya.
· Husnuzan kepada diri sendiri berarti yakin bahwa apa yang dimiliki  sebagai manusia adalah yang terbaik bagi dirinya.
· Husnuzan kepada sesama manusia berarti  berbaik sangka terhadap apa pun yang dilakukan orang lain atas dasar ketidaktahuan atau ketidakpastian. [7]
Kesimpulan: Manfaat memiliki ahlak mulia: Memperkuat dan menyempurnakan Agama, Mempermudahkan perhitungan Amal di Akhirat, Menghilangkan kesulitan, Selamat hidup di Dunia dan Akhirat.




C.  KESIMPULAN
       Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang  tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. Maksud dari akhlak itu sendiri adanya hubungan antara khaliq dan makhluk, dan antara makhluk dengan makhluk. Kita harus membiasakan diri berakhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari agar semuanya berjalan sesuai dengan perintah dan larangan dari Allah SWT.
       Akhlak mulia ialah seluruh perilaku umat manusia yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits yaitu adab sopan santun yang di contoh kan dan di ajarkan Rosulullah Muhammad Saw kepada seluruh umat manusia ketika beliau masih hidup. Di dalam diri manusia terdapat dua perangai yang keduanya dicintai Allah yaitu santun dan kalem (tenang dan sabar tidak tergesa-gesa). Sejak awal manusia telah dianugrahi akhlak yang baik, namun ada juga yang diperoleh melalui usaha, artinya bahwa seseorang membiasakan hal itu dalam kehidupannya, sehingga ia benar-benar memilikinya. Akhlak mulia terbentuk melalui proses pembiasaan  sehingga terbentuk karakter yang selaras dengan nilai-nilai yang baik dan positif . Akhlak yang baik akan membuahkan ketenangan dan ketentraman batin bagi pemiliknya dan ia tidak akan risau karena merasa tentram dalam bermuamalah dengan orang lain.














Daftar Pustaka

Akhlak Mulia.Https;//Annafimuja.Wordpress.Com//Senin Tanggal 21-2016.
Muchtar,Dkk.2011.Pendidikan Agama Islam.Jakarta.Erlangga.
Nata,Abuddin.2013.Akhlak Tasawuf Dan Karakter  Mulia.Jakarta.Pt Rajagrafindo
Nugraha,Putra.2008.Akidah Akhlak.Surakarta. Putra Nugraha.
Pamungkas,M.Imam.2012.Akhlak Muslim Modern. Bandung.Marja.







[1] M. Imam Pamungkas, Akhlak Muslim Modern, (Bandung: Marja, 2012), hlm, 50.
[2]Ibid, hlm, 56.
[3] Ibid , hlm, 64.
[4] Abidin nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: erlangga, 2011) hlm. 143.
[5] Putra Nugraha, Akidah Akhlak, (Surakarta : Putra Nugraha, 2008) hlm.49.
[6]  Ibid,  hlm.53.
[7] Muchtar, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Rajagrafindo,2013),hlm.53.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar